top of page

Langkah Aman dan Tepat Konsumsi Antibiotik

  • Gambar penulis: amjtimes
    amjtimes
  • 24 Agu 2019
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 16 Sep 2019

Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan penjualan obat antibiotik yang tergolong sangat bebas. Hal itu dibuktikan dengan mudahnya akses masyarakat luas bisa membeli antibiotik di apotek-apotek dan toko toko obat, secara bebas tanpa adanya resep dokter. Padahal tanpa mereka ketahui, antibiotik tergolong salah satu jenis obat yang tidak dijual bebas, dan hanya bisa didapat dengan adanya resep dokter.

Umumnya masyarakat mengenal antibiotik sebagai obat untuk menyembuhkan infeksi. Sebetulnya, antibiotik hanya efektif bekerja pada infeksi bakteri saja, sedangkan penyakit yang disebabkan oleh virus tidak memerlukan antibiotik.

Mungkin, sebagian dari anda bertanya tanya, bagaimana cara mengetahui mana penyakit yang berasal dari bakteri dan mana yang dari virus? Terdapat beberapa hal yang dapat kita bandingkan untuk melihatnya:

Infeksi bakteri biasanya berlangung lebih lama, yaitu lebih dari sepuluh hari. Infeksi karena virus, berlangsung kurang dari sepuluh hari.

Sekret yang dikeluarkan apabila terinfeksi oleh virus berwarna bening, dan encer. Sedangkan infeksi bakteri akan menghasilkan sekret yang berwarna kuning kehijauan, dan lebih kental.

Infeksi bakteri akan menimbulkan demam tinggi, yang akan bertambah parah. Sedangkan demam oleh virus, akan menurun atau membaik.

Ketidaktahuan masyarakat akan hal ini menyebabkan antibiotik sering dikonsumsi walaupun sebenarnya tidak diperlukan. Perlu diingat kembali, walau infeksi virus dan bakteri sama sama menimbulkan demam tinggi, dimana demam oleh virus akan lebih cepat membaik, namun tidak semua demam merupakan respon tubuh terhadap infeksi bakteri. Faktor lain yang dapat menimbulkan demam adalah bertumbuhnya gigi pada anak anak. Dalam hal ini, tentu peran antibiotik tidak diperlukan.

Selain itu, cara mengonsumsi antibiotik yang salah juga masih sering dilakukan oleh masyarakat. Saat sakit, biasanya pasien diberi antibiotik dalam dosis tertentu, antibiotik tersebut harus dikonsumsi sampai habis. Namun, yang sering kita temukan adalah, saat membaik, pasien tidak lagi mengonsumsi antibiotik berdasarkan dosis yang diberikan. Hal ini akan menimbulkan resistensi terhadap bakteri yang ada, sehingga bakteri menjadi kebal. Bila dikemudian hari kembali terjadi infeksi oleh bakteri yang sudah resisten ini, akan sulit penyembuhannya, karena bakteri sudah kebal terhadap antibiotik tertentu.

Resistensi atau kekebalan terhadap antibiotik ini menjadi salah satu hal yang ditakutkan karena diperkirakan dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi. Pada tahun 2016, diinformasikan bahwa di Indonesia terjadi kurang lebih 135000 kematian akibat resistensi antibiotik. Dan diperkirakan pada tiga puluh tahun mendatang akan ada sekitar sepuluh juta orang di dunia yang meninggal akibat resistensi antibiotik.

Untuk mencegah hal ini terjadi, maka masyarakat dihimbau untuk mengonsumsi antibiotik sesuai dengan resep dokter yang diberikan dan berdasarkan sakit yang dialami. Biasanya para dokter memberikan antibiotik dalam dosis tertentu agar bakteri yang ada segera mati dan dalam jangka waktu yang agak panjang agar tidak terjadi mutasi. Pasien juga diharapkan menghabiskan obat sesuai dengan anjuran. Pemberhentian antibiotik yang tidak sesuai waktu akan membuat bakteri bertahan hidup dan menyebabkan infeksi berulang.

Sumber:www.pfizer.co.id

Ditulis oleh: Miuchia Kroons

Komentar


bottom of page