DEMENSIA BUKAN SEKEDAR LUPA
- amjtimes
- 23 Sep 2018
- 4 menit membaca
“Saya pernah kabur dari rumah selama 15 tahun karena ibu saya menderita demensia”, tutur DY Suharya, Direktur Regional Asia Pasifik Alzheimer’s Disease International (ADI), saat diwawancarai pada peluncuranprogram penelitian multinasional Strengthening Responses to Dementia in Developing Countries(STRiDE)di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Pada kesempatan itu, sempat ditanyakan juga alasan beliau meninggalkan rumah selama 15 tahun padahal selama ini kita kenal demensia hanya sebagai penyakit “lupa”. Akan tetapi, benarkah demensia hanya sekedar penyakit lupa?
DY Suharya menerangkan bahwa demensia jauh dari persepsi masyarakat yang hanya menganggap demensia sebagai penyakit lupa. Secara keilmuan, orang dengan demensia (ODD) tidak hanya menderita gangguan kognitif, tetapi juga dapat menderita gangguan lain seperti paranoid, hingga halusinasi, dan lain sebagainya.
“Sangat frustasi rasanya menghadapi ibu saya yang begitu saya cintai seringkali memicu pertengkaran, kesalahpahaman, hingga kekacauan di dalam rumah. Tapi saat itu saya tidak tahu kalau ibu saya sudah mengalami penurunan fungsi otak (akibat demensia). Defense mechanismsetiap orang berbeda, mungkin beberapa ada yang seperti saya, tapi ada juga yang tetap dapat tinggal di rumah dengan kondisi seperti itu”, sambungnya lagi. Ia juga menyatakan bahwa tidak sedikit keluarga yang tinggal bersama ODD akhirnya menderita penyakit jantung, stroke, dan lain sebagainya dikarenakan hal ini.
Apakah demensia sebenarnya?
Demensia adalah istilah untuk menggambarkan kondisi penurunan fungsi otak yang bersifat progresif dan menyebabkan kehilangan kemandirian seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-harinya (mandi, makan, berpakaian, berjalan, dll). Penurunan fungsi otak ini dapat berupa gangguan daya ingat, kemampuan berbahasa, pengambilankeputusan,persepsi, hinggaperubahan perilaku. Demensia disebabkan oleh berbagai jenis gangguan/penyakit pada otak. Jenis demensia yang paling umum adalah demensia Alzheimer.Di Indonesia sendiri, setiap tahunnya terjadi peningkatan populasi lansia yang merupakan faktor risiko seseorang menderita demensia sehingga demensia perlu dikenali dan diwaspadai bersama.
Berikut adalah 10 gejala demensia yang perlu diwaspadai, yaitu:
1. Gangguan daya ingat. Penderita tampak sering melupakan kejadian yang baru saja terjadi, melupakan janji, dan seringkali menanyakan dan menceritakan hal yang sama berulang kali.
2. Kesulitan untuk fokus dan melakukan aktivitas sehari-hari. Penderita seringkali lupa cara memasak, mengoperasikan telpon, handphone, hingga ketidakmampuan melakukan perhitungan sederhana.
3. Sulit melakukan kegiatan yang familiar.
4. Disorientasi. Penderita umumnya kebingungan akan waktu (hari/tanggal/hari penting) dan tempat.
5. Kesulitan memahami visuospasial. Penderita kesulit membaca, mengukur jarak, membedakan warna, tidak mengenali wajah sendiri di cermin, menabrak cermin saat berjalan, menuangkan air di gelas namun tidak tepat menuangkannya
6. Gangguan berkomunikasi. Penderita kesulitan berbicara dan mencari kata yang tepat, sering berhenti dan bingung di tengah percakapan karena tidak bisa melanjutkan.
7. Menaruh barang tidak pada tempatnya. Penderita seringkali melupakan posisi peletakan suatu barang, bahkan terkadangang dapat mencurigai anggota keluarga ada yang mencuri/menyembunyikan barang tersebut.
8. Salah membuat keputusan. Penderita seringkali tampak mengenakan pakaian yang tidak serasi, misal kaos kaki kiri merah dan yang kanan biru
9. Menarik diri dari pergaulan. Penderita tidak memiliki semangat ataupun inisiatif untuk melakukan aktivitas atau hobi yang biasa dinikmati.
10. Perubahan perilakun dan kepribadian. Penderita mengalami perubahan emosi secara drastis, menjadi bingung, curiga, depresi, takut atau tergantung yang berlebihan pada anggota keluarga.
“Kalau orang sudah punya gejala lupa, sehari bisa lupa kunci 10x. Penelitian di Cina menunjukkan bahwa kebanyakan penderita demensia menunda sampai 3 tahun sebelum memeriksakan dirinya.”, imbuh DY Suharya. Beliau juga menyampaikan pentingnya kita mendiagnosis demensia sejak dini,terkait beberapa terapi non-farmakologi yang terbukti dapat membantu menghambat perkembangan demensia apabila dilakukan sejak dini, seperti senam poco-poco.
Yayasan Alzheimer’s Indonesia (ALZI) dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya mendapat kehormatan untuk menjadi negara pertama yang meluncurkan program penelitian multinasional Strengthening Responses to Dementia in Developing Countries(STRiDE) setelah resmi diluncurkan secara global di London, Maret 2018 lalu.Harapannya, dengan adanya program ini, problema demensia di masyarakat dapat diatasi.
Seorang pakar Neurologi, Dr. dr. Yuda Turana, SpS, memaparkan berbagai tantangan dalam implementasi Rencana Aksi Nasional Demensia. Pakar sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya ini menjelaskanbahwa tantangan terbesar yang menghambat berjalannya program ini di Indonesia adalah masalah koordinasi lintasprogram dan sektor yang masih tinggi, dan tingginya jumlah penderita vaskuler yangmerupakan faktor risiko seseorang menderita demensia.
“Program penelitian STRiDE ini akan menjawab berbagai tantangan tersebut. Program penelitian yang akan berlangsung selama empat tahun hingga tahun 2021 ini akan mendukung implementasi Rencana Aksi Nasional Demensia dan pengembangan berbagai kebijakan nasional untuk menanggapi semakin meningkatnya jumlah lansia dan orang dengan demensia di Indonesia,” papar Pembina Alzheimer’s Indonesia ini. Langkah kerja sama penelitian STRiDE ini juga merupakan bagian dari perhatian Unika Atma Jaya pada kebijakan publik. Unika Atma Jaya memiliki Institute of Public Policy (IPP) yang mengarusutamakan penelitian kebijakan publik di Indonesia.
Direktur Centre of Ageing StudiesUniversitas Indonesia (CAS UI) Prof. Dr. Tri Budi W. Rahardjo, drg, M.S, mengatakan bahwa persiapan untuk masa tua yang sukses harus dimulai dari usia produktif agar dapatmengurangi risiko penyakit yang mengganggu kemampuan fungsional seorang lansia, seperti contohnya demensia. “Kebutuhan ODD berbeda antar satu orang dengan yang lainnya, dan beberapa kondisi dapat menyebabkan ODD memiliki kebutuhan yang tak lagi dapat dipenuhi dengan tinggal di rumah seperti biasa, sehingga memerlukan long term care (LTC),” tutur Prof. Tri. Beliau juga menambahkan bahwa kesiapan layanan diagnostik dan peningkatan kualitas LTC sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup orang dengan demensia (ODD). LTC yang berkualitas membutuhkan dukungan dari berbagai aspek lingkungan dan komunitas.
Seorang penelitidari Indonesia Research on Ageing(InResAge), AP Dr. dr. Nugroho Abikusno,M.Sc(nutr),DrPH,menyampaikan Indonesia saat ini mendapatkan bonus demografi.Hal ini berarti jumlah orang usia produktif di Indonesia sedang dalam puncaknya dan sanggup mendukung populasi lansia yang sudah tidak bekerja. Saat ini, setiap 12 orang lansia didukung oleh 100 orang usia produktif. Menurutnya, ini adalah momen yang tepat untuk mengembangkan berbagai infrastruktur dan sumber daya manusia yang ramah untuk seluruh usia – termasuk untuk lansia dan orang dengan demensia. Pengembangan ini harus fokus di lingkungan dan komunitas sekitar rumah.
“Tantangan utama untuk mewujudkan Indonesia ramah lansia & demensia adalah perlunya respon yang cepat dan tepat dari pemerintah untuk mengimplementasikankebijakan dan program ramah lansia di tingkat nasional dan regional. Perlu penguatan komunitas ramah lansia untuk menjawab permasalahan di tingkat lokal seperti kebutuhan akan infrastruktur dan caregiveruntuk ODD dan lansia yang sakit, serta pengembangan social businesses untuk mendukung kebutuhan yang muncul dari meningkatnya jumlah lansia di Indonesia.” ujar Dr. Nugroho.
Komentar