top of page

FRANKENSTEIN ABAD 21

  • Gambar penulis: amjtimes
    amjtimes
  • 16 Sep 2018
  • 2 menit membaca

Baru-baru ini kabar mengejutkan datang dari seorang dokter asal Italia bernama Sergio Canavero dan tim yang dipimpin oleh dokter Xiaoping Ren dengan klaim bahwa mereka berhasil melakukan transplantasi kepala pada seorang jenazah. Berdasarkan keberhasilan ini, mereka menyatakan bahwa bukanlah tidak mungkin kegiatan serupa diterapkan pada manusia hidup, terutama bagi mereka yang potensial untuk menjalaninya seperti pada pasien mati batang otak. Ide utama dari prosedur ini ialah menyambung pembuluh darah, saraf, dan tulang belakang dari kepala dan tubuh yang terpisah. Namun, banyak kabar yang menyatakan bahwa keberhasilan ini hanyalah omong kosong dan kurang ilmiah, sebab aspek medis yang terkait sangat kompleks dan dianggap cukup mustahil untuk dilakukan.

Terlepas dari pro dan kontranya prosedur transplantasi kepala dari segi medis, tidak sedikit mereka yang menyoroti dan mempertanyakan kabar ini dari segi etika prosedur. Pertanyaan-pertanyaan etis pun mulai bermunculan, antara lain siapakah yang akan disebut sebagai donor dan resipien? Apakah ini seorang individu yang memiliki kepala baru atau seorang individu yang mendapatkan tubuh baru? Bagaimana persoalan ini dipandang dari segi genetik? Apakah prosedur ini akan menciptakan manusia dengan gen chimera? Selain keempat pertanyaan tersebut, masih banyak lagi hal yang patut dikaji ulang berkaitan dengan sisi medis dan etika dari mekanisme yang kontroversial ini.


Pada sudut pandang yang berbeda, ada pula pendapat yang menyatakan bahwa lebih baik biaya yang sangat besar untuk menjalani prosedur ini dialokasikan bagi penderta trauma sumsum tulang belakang. Pendapat lain menyatakan bahwa apabila terdapat prosedur yang dapat menyambungkan dan memperbaiki kerusakan pada sumsum tulang belakang, akan lebih baik bila hal tersebut bertujuan untuk memperbaiki kerusakan yang ada dibandingkan menggantinya dengan tubuh utuh yang baru, karena belum tentu seseorang dapat menerima dirinya sendiri dengan keadaan dimana lebih dari setengah tubuhnya adalah bukan milik dirinya sendiri.


Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa transplantasi kepala merupakan suatu langkah yang revolusioner bagi dunia medis dan bukan tidak mungkin dapat memengaruhi sejarah eksistensi manusia. Namun, tidak salah apabila menyebut prosedur ini cukup kontroversial dan menuai banyak kecaman, karena para ilmuwan kembali dihadapkan pada tantangan medis dan bentrokan etik yang kembali mempertanyakan keberadaan tubuh sebagai seorang individu yang berbeda satu sama lain.


Referensi

  1. World's first human head transplant carried out on a corpse in China [Internet]. Mail Online. 2018 [cited 31 March 2018]. Available from: http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-5092769/World-s-human-head-transplant-carried-out.html

  2. Burnett D. No, there hasn’t been a human 'head transplant', and there may never be [Internet]. the Guardian. 2018 [cited 31 March 2018]. Available from: https://www.theguardian.com/science/brain-flapping/2017/nov/17/no-there-hasnt-been-a-human-head-transplant-and-may-never-be-sergio-canavero

  3. Andi Topping R. Would a human head transplant be ethical? [Internet]. Bioethics.ac.uk. 2018 [cited 31 March 2018]. Available from: https://www.bioethics.ac.uk/news/Would-a-human-head-transplant-be-ethical.php

  4. Are Head Transplants Possible... And Ethical? [Internet]. HuffPost. 2018 [cited 31 March 2018]. Available from: https://www.huffingtonpost.com/healthline-/are-head-transplants-poss_b_12090894.html

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar


bottom of page