EUTANASIA, SEBUAH DILEMA MORAL
- amjtimes
- 26 Agu 2018
- 4 menit membaca
Diperbarui: 21 Okt 2019
Sebelum membahas lebih dalam mengenai euthanasia, pertama-tama mari kita cari tahu apa arti sebenarnya dari kata ‘euthanasia’. Istilah ‘euthanasia’berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘euthanatos’ yang berarti kematian yang mudah. Istilah ini telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi eutanasia. Eutanasia sendiri berarti bahwa seorang dokter diperbolehkan oleh hukum untuk mengakhiri hidup seorang pasien dengan cara yang tidak menyakitkan selama pasien tersebut dan keluarga menyetujui. Eutanasia juga merupakan suatu bentuk pengakhiran akan hidup seseorang yang sakit sangat parah dengan tujuan untuk membebaskan mereka dari penderitaan.
Dalam pelaksanaannya, eutanasia terbagi atas dua jenis, yaitu eutanasia volunter dan eutanasia involunter. Eutanasia volunter adalah eutanasia yang dilaksanakan dengan adanya persetujuan dari pasien yang bersangkutan. Eutanasia kini bersifat legal di beberapa negara seperti Belgia, Luksemburg, Belanda, Swiss, dan negara bagian Oregon serta Washington di Amerika Serikat. Sedangkan eutanasia involunter adalah eutanasia yang dilaksanakan tanpa memerlukan persetujuan dari pasien. Keputusan ditentukan oleh orang lain, karena pasien tidak mampu membuat keputusan sendiri.
Berdasarkan prosedur dan tata cara, eutanasia juga terbagi atas dua jenis, yaitu eutanasia pasif dan eutanasia aktif. Eutanasia pasif adalah sebuah prosedur yang menahan pemberian pengobatan yang dapat mempertahankan nyawa pasien. Jika seorang dokter meningkatkan dosis obat penghilang rasa sakit yang kuat seperti opioid, pada akhirnya akan berbahaya bagi pasien. Beberapa berargumen bahwa hal ini merupakan eutanasia yang dilakukan secara pasif. Namun ada pula yang tidak setuju bila hal ini disebut eutanasia, karena tidak ada niat untuk mengakhiri nyawa pasien. Eutanasia aktif adalah ketika dokter menggunakan zat yang mematikan untuk mengakhiri nyawa seorang pasien, baik atas keinginan pasien tersebut maupun orang lain. Eutanasia aktif ini bersifat lebih kontroversial karena besar kemungkinan mengangkut debat seputar agama, moral, dan etika.
Setelah penjelasan singkat mengenai eutanasia di atas, tidak heran apabila eutanasia merupakan suatu topik yang mengundang banyak tanya dan diikuti oleh berbagai argumen pro dan kontra dari banyak pihak. Beberapa argumen yang mendukung pelaksanaan eutanasia, yaitu : argumen yang pertamaadalah bahwa pasien seharusnya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hidup sendiri. Argumen kedua menyangkut kualitas hidup pasien, apakah lebih baik bila pasien dipertahankan hidup namun dengan kualitas hidup yang rendah atau pasien diperbolehkan untuk memilih eutanasia atas pertimbangannya sendiri? Argumen ketiga adalah setiap pasien berhak untuk mempertahankan martabatnya dengan cara mengakhiri hidup secara hormat. Argumen keempat melibatkan orang-orang terkasih yang mendampingi pasien. Orang yang telah menyaksikan kematian perlahan dari orang lain cenderung berpendapat bahwa eutanasia sebaiknya diperbolehkan. Argumen kelima mempertimbangkan staf kesehatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk merawat pasien, lebih masuk akal bila staf, perlengkapan, dan obat-obatan diutamakan untuk pasien yang memang berjuang untuk tetap hidup daripada untuk pasien yang tidak ingin hidup lagi. Argumen keenam adalah pandangan bahwa akan lebih manusiawi untuk memberikan pilihan kepada seseorang dengan penderitaan yang berkepanjangan untuk menentukan apakah mereka tetap ingin hidup atau tidak. Argumen ketujuh adalah kenyataan bahwa kita telah mempraktekkan eutanasia terhadap hewan peliharaan, jika ada hewan peliharaan yang merasakan penderitaan berkepanjangan, dipandang sebagai hal yang baik bila kita mengakhiri hidup mereka dengan damai, mengapa hal yang sama tidak dapat dilakukan pada manusia?
Argumen yang mendukung eutanasia memang cukup banyak dan beragam, namun argumen yang menentang juga tidak kalah banyak, karena eutanasia mempengaruhi tidak hanya hidup pasien namun juga hidup orang-orang yang berada disekitarnya terutama keluarga. Beberapa argumen yang menentang eutanasia, yaitu : argumen yang pertama memandang bahwa pelaksanaan eutanasia dianggap bertolak belakang dengan peran dokter yang sewajarnya karena dengan melakukan eutanasia maka dokter membantu pasien untuk mengakhiri hidupnya. Seharusnya peran dokter adalah untuk memastikan bahwa pasien dapat hidup dengan nyaman dan bebas dari keluhan sakit. Argumen kedua melihat eutanasia dari perspektif berbagai agama serta kepercayaan yang menolak keras adanya eutanasia karena anggapan bahwa eutanasia merupakan suatu bentuk pembunuhan yang tidak dibenarkan secara moral dan hal ini dapat mengurangi rasa hormat masyarakat terhadap kesucian hidup. Argumen ketiga mempertimbangkan kompetensi pasien yang merupakan hal penting dalam euthanasia. Dalam melaksanakan eutanasia secara volunter, pasien yang membuat keputusan harus memiliki kondisi mental yang stabil dengan pemahaman yang jelas akan pilihan-pilihan apa saja yang tersedia beserta segala konsekuensinya dan pasien mampu mengekspresikan keinginannya untuk mengakhiri hidup dengan jelas. Argumen keempat adalah eutanasia tidak dapat diregulasi.
Banyaknya argumen yang mendukung dan juga menentang membuktikan betapa besar dampak yang dibawa jika seseorang memutuskan untuk melakukan eutanasia. Menurut saya, ketika berdiskusi mengenai eutanasia, kesimpulan yang didapat tergantung dari perspektif apa yang kita ambil. Apakah kita mengutamakan kebahagiaan pasien atau hidup itu sendiri? Bagi seseorang untuk memutuskan akan melakukan eutanasia, berarti ia tidak senang dengan kondisi hidupnya karena menderita penyakit yang menimbulkan penderitaan berkepanjangan atau depresi berat dan penyakit yang diderita tidak dapat disembuhkan. Namun, di sisi lain bila eutanasia dilegalkan maka penghargaan terhadap hidup akan menurun. Banyak yang akan berpikir bila mereka sedang menderita dan tidak kuat lagi untuk melanjutkan hidup maka mereka dapat secara legal mengakhiri hidup mereka, bahkan orang tersebut mungkin tidak mengetahui pilihan apa saja yang mereka miliki untuk memperbaiki kondisi hidup mereka. Tentunya kesempatan untuk bertambah sehat dan baik menjadi hilang selamanya karena orang tersebut langsung memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Eutanasia ideal dilakuka
n pada makhluk yang kemampuan logikanya melebihi perasaan, namun kenyataannya adalah keputusan dan perbuatan manusia seringkali didorong oleh emosi dan perasaan. Sehingga pelaksanaan eutanasia tidak memiliki regulasi atau batasan yang jelas. Hal ini tentu berbahaya dalam waktu jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Definition of Eutanasia. https://www.merriam-webster.com/dictionary/eutanasia. Diakses pada tanggal 19 Maret 2018, pukul 18.00 WIB.
2. Nordqvist, Christian. 2017. What are eutanasia and assisted suicide?https://www.medicalnewstoday.com/articles/182951.php. Diakses pada tanggal 19 Maret 2018, pukul 19.00 WIB.
Komentar