Benarkah Kemanusiaan menjadi Retorika Bisnis Masa Kini?
- amjtimes
- 9 Mei 2019
- 7 menit membaca
“The primary purpose of a business is to maximize profits for its owners or stakeholders”. (1) Teori bisnis tersebut menunjukkan eratnya hubungan bisnis dengan profit atau keuntungan. Segala hal yang dilakukan dalam proses bisnis memiliki satu tujuan yaitu profit. Dalam usaha mendapatkan profit, tentunya dibutuhkan konsumen yang akan membeli barang atau jasa yang ditawarkan. Berbagai aspek dalam kehidupan ditawarkan untuk menarik perhatian konsumen. Kini, aspek kemanusiaan menjadi ujung tombak bisnis-bisnis yang dianggap hebat dan menjadi wajah baru dari sistem kapitalisme. (2) Bisnis ini dikenal sebagai bisnis sosial atau social entrepreneurship. Benarkah bisnis dapat berjalan bersama dengan kemanusiaan? Atau mungkin kemanusiaan hanya menjadi retorika semata?
Bisnis dan Kemanusiaan.
Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bisnis dapat diartikan sebagai “usaha komersial dalam dunia perdagangan; bidang usaha; usaha dagang”. (3) Bisnis yang selama ini dikenal khalayak umum berjalan atas dasar sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme sendiri dapat memiliki beberapa definisi, salah satunya ialah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, menjual barang, menyalurkan barang, dan lain sebagainya.(2) Dalam penerapannya, kebebasan secara penuh benar-benar diberikan kepada setiap orang. Namun, terdapat beberapa hal yang dikuasai dan diatur oleh pemerintah sehingga pelaku bisnis tidak dapat memakai modal maupun sumber dayanya untuk melakukan bisnis pada beberapa hal tersebut. Sebagai contoh, air dan listrik dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah, sehingga kekacauan dan penderitaan akan timbul ketika air dan listrik dikuasai oleh swasta yang menyebabkan sebagian kelompok masyarakat tidak dapat menikmatinya.
Ketika suatu hal menyangkut hajat hidup orang banyak, pemerintah memegang kendali penuh akan hal tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak masalah yang terjadi di masyarakat. Aspek kemanusiaan pun maju sebagai ujung tombak, menggerakan hati orang-orang yang peduli dengan sesama dan lingkungannya.
Kemanusiaan dapat diartikan sebagai sifat-sifatmanusia atau sebagai manusia. (3) Dalam konteks bisnis, sifat yang muncul merupakan sifat kesosialan dari individu tersebut. Sifat kesosialan adalah sifat-sifat kemasyarakatan. Sifat ini terwujud dalam bentuk perhatian pada masalah umum/publik, suka menolong, dan lain sebagainya. (3)
Ketika menilik kembali sejarah bisnis, sistem kapitalisme merupakan sistem yang berhasil dijalankan hampir di seluruh dunia. Sistem yang dianggap berhasil ini memberikan dampak yang luar biasa pada perekonomian. Namun di sisi lain, sistem kapitalisme juga membawa pengaruh buruk pada sektor lainnya. Usaha pemilik modal untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya terus berkembang dan tidak menyadari dampaknya pada sesama manusia dan lingkungan, atau mungkin kesadaran akan dampak yang timbul sebenarnya ada, tetapi tidak dihiraukan. Salah satu contoh dampak negatif yang mengerikan adalah kesenjangan sosial. Bayangkan, 80 persen dari kekayaan dunia hanya dinikmati oleh 20 persen penduduk dunia, sedangkan 80 persen lainnya masuk dalam kategori pekerja yang mengucurkan keringat demi sesuap nasi dan memperbanyak harta si kaya. (2)
Ketika kesadaran akan dampak negatif yang terjadi semakin meningkat, sistem kapitalisme mulai runtuh. John Elkington pada tahun 1994 mengemukakan sebuah konsep yang disebut TripleBottom Lines: Profit, People, Planet. (4) Konsep ini dimunculkan dengan tujuan untuk mengukurketahanan (sustainability) dari suatu perusahaan. Konsep sebelumnya hanya mengukur tingkat ketahanan perusahaan dari aspek keuntungan (profit), yakni jika perusahaan mampu untuk mendapatkan profit dengan berkesinambungan maka perusahaan dapat bertahan dan berkembang. Dalam konsep Triple Bottom Lines, aspek sosial dan lingkungan ikut diperhitungkan. Ketika suatu bisnis hanya mengejar profit dan menyebabkan kerugian pada masyarakat (people) dan lingkungan (planet), bisnis tersebut dianggap tidak akan bertahan lama. Dari konsep awal ini, maka sekarang dikenal konsep Corporate Social Responsibility(CSR) di mana perusahaan atau bisnis perlu memberikan konstribusi positif pada masyarakat dan lingkungan. (2)
Etika dan moral, suatu prinsip dasar yang universal. Etika dan moral juga merupakan bagian penting dari kemanusiaan. Kata etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, "ethikos", berarti "timbuldari kebiasaan" adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Sementara itu, kata moral berasal dari bahasa Latin,“mos” (jamak mores), yang memiliki arti “ajaran tentang baik buruk yang diterima umum”. Salah satu tokoh terkenal dunia, Mahatma Gandhi menyatakan terdapat tujuh hal yang dapat menghancurkan hidup manusia. Satu dari tujuh hal tersebut adalah commerce without morality, dengan “commerce” dapat diartikan sebagai suatu kegiatan bisnis. Oleh karena itu, pesan penting yang ingin disampaikan Gandhi adalah dalam bisnis, etika perlu diterapkan berjalan bersamaan sebagai mitra atau partner. (5)
Bisnis Sosial / Social Entrepreneurship.
Konsep CSR kini kembali mengalami perkembangan dan berubah wujud menjadi bisnis sosial. Terdapat perbedaan yang mendasar jika bisnis konvensional dan bisnis sosial diperhatikan dengan teliti. Secara difinitif, bisnis sosial atau social entrepreneurshipmerupakan sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Gabungan dari dua kata, socialyang artinya kemasyarakatan, dan entrepreneurshipyang artinya kewirausahaan/bisnis. Bisnis sosial adalah suatu usaha bisnis yang tujuan utamanya adalah kepentingan sosial, keuntungan dari perusahaan diinvestasikan kembali ke dalam usaha untuk kepentingan masyarakat dibandingkan untuk memaksimalkan keuntungan pemegang saham/pemilik (Dept. of Trade and Industry UK, 2002). Hal ini menunjukkan sifat bisnis sosial yang self-sustainablesehingga dapat terus memberikan dampak sosial tanpa perlu tergantung suntikan dana dari donatur seperti yang terjadi pada organisasi charity. Definisi serupa juga dikemukakan oleh Prof. Muhammad Yunus, peraih Hadiah NobelPerdamaian tahun 2006 atas karyanya mendirikan Grameen Bank, “A non-dividend company thatis created to address and solve a social problem.”(6) Pelaku atau pemilik bisnis sosial disebutsocial entrepreneur, yaitu seseorang yang mengerti permasalahan sosial di masyarakat danmenggunakan kemampuan entrepreneurshipuntuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan, dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007).
Karakteristik dan tujuan dari kebijakan-kebijakan dalam bisnis sosial dapat digunakan untuk mengidentifikasi bisnis sosial tersebut. Bill Drayton, pendiri Ashoka Foundation, mengungkapkan dua karakteristik dari bisnis sosial. Pertama, adanya inovasi sosial yang mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat. Kedua, hadirnya individu bervisi, kreatif, berjiwa pengusaha (entrepreneurial), dan beretika di belakang gagasan inovatif tersebut. (7) Bill juga memberikan 11 tujuan dari kebijakan bisnis sosial bagi masyarakat; Menciptakan lapangan pekerjaan; Meningkatkan kualitas hidup; Menciptakan barang dan jasa baru; Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik; Mengaplikasikan proses demokratis; Mengintegrasikan kelompok populasi yang rentan; Mengembangkan kompetensi antar budaya; Menciptakan pendapatan; Memperbaiki citra daerah setempat; Menggunakan sumber daya regional secara kreatif dan efektif; dan memberdayakan masyarakat untuk mengubah hidup mereka ke arah yang lebih baik. (8)
Wirausaha sosial atau social entrepreneurjuga memegang peranan penting dalam terciptanya suatu bisnis sosial. Country directorsYunus Social Business angkat bicara mengenai tiga karakter kunci seorang social entrepreneur, yaitu semangat (passion), pemahaman yang mendalammengenai komunitas lokal, dan kemampuan untuk menarik orang-orang berbakat. (9) Dalam konteks ini, passionmenggambarkan suatu integritas dan konsistensi.
Kedokteran Dulu, Kini, dan Nanti.
Dokter merupakan suatu profesi yang sangat kental dengan nilai kemanusiaan. Hingga beberapa dekade yang lalu, dokter masih diagungkan bagai dewa dalam dunia kesehatan. Namun kini, kondisi tersebut berubah hampir 180 derajat. Khalayak umum mudah sekali menuntut profesi dokter secara hukum dengan tuduhan malpraktik. Hal ini terjadi akibat dampak langsung mulai terbukanya dunia kedokteran pada publik. Begitu banyak informasi mengenai kedokteran yang dapat diakses secara bebas oleh publik. Sayangnya, unsur seni dalam kedokteran tidak dapat ikut dibagikan begitu saja melalui media informasi. Ketidakpahaman publik mengenai unsur seni inilah yang seringkali berakhir dengan tuntutan malpraktik di ranah hukum.
Dalam rangka mengurangi berbagai tuntutan publik, nilai kemanusiaan kembali dimunculkan dan diutamakan bagi tenaga kesehatan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi profesi dokter saja, tetapi juga mencakup profesi perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran UGM, dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Sc., PhD., memberikan petuah pada wisudawan periode kelulusan Januari 2017. Petuah tersebut berisi pesan yang secara umum patut didengar dan diamalkan oleh semua tenaga kesehatan. “… titipan kami hanya satu, … senantiasa berpedoman mengabdi pada kemanusiaan, itu harus dibawa terus”, tegasnya. (10) Berdasarkan perkembangan yang ada saat ini, dunia kedokteran sepertinya akan terus menonjolkan nilai kemanusiaan sebagai ujung tombak dan solusi untuk menghindari masalah yang mungkin timbul akibat tuntutan publik yang semakin tinggi pula.
Dewasa ini, selain mulai terbukanya kedokteran pada khalayak umum, kedokteran juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan yang akan dibahas berada dalam konteks pengembangan dan diversifikasi profesi setelah menempuh pendidikan kedokteran. Profesi yang masih dominan dilakukan oleh lulusan pendidikan kedokteran saat ini adalah profesi dokter. Namun kini, profesi sebagai peneliti dan entrepreneurjuga mulai meningkat dengan pesat. Sejak awal proses pendidikan kedokteran, berbagai instansi terus berusaha menanamkan minat penelitian dan harapannya profesi peneliti semakin banyak bermunculan. sementara bisnis atau entrepreneurshipterkait kedokteran masih tergolong baru.
Bisnis atau entrepreneurdalam bidang kedokteran sudah dibuktikan dapat berjalan dan memberikan dampak sosial yang luar biasa. Aravind Eye Care System, sebuah entrepreneuryang start-up di India pada tahun 1976, menjadi bukti nyata keberhasilan bisnis sosial terkait bidangkedokteran. Aravind didirikan oleh dokter G. Venkataswamy atau yang lebih dikenal dengan panggilan dokter V. Dokter V memulai Aravind bukan dengan tujuan untuk mendapatkan profit,
melainkan beliau melihat tingginya masalah kesehatan mata di penduduk India. Ketika itu, 25 persen dari kasus kebutaan di seluruh dunia berada di India dan dr. V ingin mengubah kondisi ini. Sebuah ide gila beliau ungkapkan dalam sebuah sesi wawancara, yakni beliau melihat betapa tingginya efisiensi McDonald’s dalam menjalankan bisnis makanan cepat saji dan beliau ingin menciptakan sebuah sistem pengobatan masalah kesehatan mata dengan tingkat efisiensi yang sama dengan McDonald’s. Hal ini merupakan sebuah mimpi gila yang tidak akan mungkin disetujui (accepted) jika melalui proses penilaian secara ilmu ekonomi. Integritas dan konsistensi dr. V dalam usaha mewujudkan mimpinya kini membuahkan hasil yang luar biasa dan menggemparkan seluruh dunia. (11)
Health Care Entrepreneurship.
Masalah di bidang kesehatan seakan tidak pernah ada habisnya. Penyakit terus berkembang setiap harinya dan bidang kedokteran terus berusaha untuk mengejar melalui penelitian terhadap obat dan metode pengobatan baru. Selain penyakit, masalah sosial di bidang kesehatan seakan tidak mau memahami kondisi masayarakat dunia. Hingga saat ini, masih terjadi krisis global dalam akses pelayanan kesehatan. Mengacu pada data World Health Organization(WHO), diperkirakan terdapat satu miliar orang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Sekitar 100 juta lainnya akan terjerumus ke dalam kemiskinan ketika berusaha mengakses pelayanan kesehatan. (12) Biaya yang tinggi untuk mengakses pelayanan kesehatan sudah diketahui semua orang. Bahkan hal tersebut mulai menjadi “noda hitam” ketika perjuangan atas hak asasi manusia (HAM) terus diserukan.
Health care entrepreneurship (konteks: bisnis sosial di bidang pelayanan kesehatan) munculsebagai solusi di tengah kepelikan permasalahan kesehatan dunia. Pemikiran kreatif seorang entrepreneur memunculkan inovasi luar biasa dalam menyelesaikan masalah kesehatan dunia.Dengan konsep bisnis sosial, inovasi tersebut dapat dijalankan, memberikan dampak sosial yang nyata, dan bersifat self-sustainable. Dalam wujud start-up business, dampak yang diberikan mungkin masih bersifat lokal. Namun, terlepas dari dampak yang terbatas secara geografis, ide atau inovasi yag diciptakan memberikan inspirasi secara global.
Entrepreneuship di bidang kedokteran dapat diandaikan sebagai pasangan yang ditakdirkanuntuk berjalan bersama. Masalah kesehatan dunia tidak akan pernah habis. Sejarah telah membuktikan bahwa penelitian hanya mampu memberikan solusi untuk penyakit, bukan jalan keluar dari masalah kesehatan dalam aspek sosial. Bidang kedokteran memang bidang yang paling tepat untuk merealisasikan suatu bisnis sosial dalam rangka mengatasi masalah tersebut. Pemikiran publik kini semakin terbuka dengan derasnya arus informasi melalui media digital. Kedokteran berjalan bersama dengan bisnis bukan lagi suatu hal yang dianggap tabu.
Esensi yang dapat diambil adalah dampak dari gelombang perubahan atas munculnya health care entrepreneurshipyang menjawab masalah dunia serta memberikan inspirasi dan jaminan bagi generasi mendatang untuk terus berkarya dalam menjawab tantangan dunia.
A person who sees a problem is a human being;
A person who finds a solution is visionary;
And the person who goes out and does something about it is an Entrepreneur.
~ Naveen Jain
penulis : Ryan Austin
Komentar