Bilingualisme Dapat Menunda Onset Demensia
- amjtimes
- 8 Mei 2018
- 2 menit membaca
Demensia adalah istilah untuk menggambarkan kondisi penurunan fungsi otak yang bersifat progresif dan menghambat seseorang melakukan aktivitas sehari-harinya (mandi, makan, berpakaian, berjalan, dll) secara mandiri. Penurunan fungsi otak ini dapat berupa gangguan daya ingat, kemampuan berbahasa, pembuatan keputusan dan persepsi, ataupun perubahan perilaku. Demensia disebabkan oleh berbagai jenis gangguan/penyakit pada otak. Jenis demensia yang paling umum adalah Alzheimer.
Demensia juga merupakan masalah kesehatan yang dapat mengenai siapa pun, dari latar belakang suku, agama, budaya, dan bahasa apa pun. Kebanyakan studi tentang demensia berasal dari negara maju, yang terutama berfokus pada responden dengan latar belakang budaya barat dan merupakan penutur bahasa Inggris.
Bagaimana tantangan dalam mendiagnosis demensia di negara-negara Asia-Pasifik, yang memiliki latar belakang budaya beragam dan ratusan bahasa/dialek daerah?
Seperti yang kita semua ketahui bahwa pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, dan aktivitas di waktu luang mempengaruhi daya kognitif seseorang. Daya kognitif ini akan mempengaruhi aktivitas otak manusia.
Selain itu, daya kognitif seseorang ternyata juga dipengaruhi oleh bilingualisme. Sebuah jurnal di Nature Reviews Neurology berjudul āImpact of Bilingualism on Cognitive Outcome After Strokeā menyebutkan bahwa bilingualisme dapat mengurangi penurunan kognitif seseorang setelah mengalami stroke. Penelitian yang dilakukan di Hyderabad, India tersebut, menemukan bahwa mereka yang bisa berbicara dua bahasa atau lebih mengalami sangat sedikit kerusakan kognitif pascastroke.
Berangkat dari pemikiran bahwa bilingualisme ternyata mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang, maka dilakukan banyak penelitian mengenai kaitan bilingualisme dengan demensia. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Prof. Suvarna Alladi dari Departemen Neurologi National Institute of Mental Health and Neuro Sciences di Bangalore, India, serta co-founder Alzheimerās and Related Disorders Society of India. Beliau menyampaikan materi bilingualisme dapat menunda onset demensia pada hari Senin, 30 April 2018.
Penelitian tersebut dilakukan pada 648 pasien dengan demensia di University Hospital Memory Clinic di India Selatan pada Juni 2006 dan Oktober 2012. Pasien dikelompokkan berdasarkan native language masing-masing. Setelah itu, dilakukan uji kognitif pada pasien dengan menggunakan Addenbrookeās Cognitive Examination Revised version (ACE-R). Hasilnya, rata-rata orang yang berbicara multilingual terkena demensia pada usia 65,6 tahun, sedangkan yang berbicara monolingual pada usia 61,1 tahun. Dapat disimpulkan bahwa orang yang berbicara multilingual terkena demensia 4,5 tahun lebih lambat dibandingkan orang yang hanya bicara satu bahasa saja.
Disebutkan juga bahwa orang yang berbicara secara bilingual jarang salah berbahasa ketika bicara, tetapi tidak jarang mereka tertukar menyebutkan kata-kata yang mirip dalam bahasa lain. Hal ini menunjukkan suatu kontrol kognitif yang sangat hebat dari orang yang berbicara bilingual maupun multilingual.
Oleh: Marsha Kurnia Chyntia MaharaniĀ
Komentar